Haruskah Berlogika

Haruskah Berlogika
Oleh : Bayu Prima SBW
Manusia adalah makhluk yang diciptakan akalnya oleh Allah Swt. Itulah yang membedakan manusia dengan binatang dan malaikat serta makhluk ciptaan tuhan lainnya. Namun walaupun begitu manusia cenderung malas untuk berfikir, padahal berfikir merupakan sebuah kegiatan yang harus di miliki oleh manusia supaya akal yang di berikan tuhan tidak sia-sia. Adapun kebanyakan dari manusia berfikir hanya sebatas tekstual dan sebagian lainnya tidak mau berfikir terlalu jauh dan hanya berpatokan terhadap apa yang telah ada dan tidak mempertanyakan hal-hal yang telah ada hingga menemukan puncak kebenaran. Manusia juga paling takut di tanyakan apabila hal-hal tersebut berkaitan dengan Isi Al-Qur’an sampai kepada Tuhan. Kebanyakan dari manusia kadang menolak untuk mempertanyakan hal tersebut dengan alasan itu adalah Ketetapan Tuhan. Namun pada kenyataannya ketetapan itu seringkali membuat kita bungkam ketika dipertanyakan. Namun apakah alasan tersebut hanya karena memang Al-Qur’an dan Tuhan memang pada hakikatnya harus ada atau kecenderungan manusia yang malas atau takut berfikir yang membuat mereka tidak ingin mempertanyakan lalu sulit menemukan jawaban.
Imam al-Ghazali memang menentang keras bagi muslim yang mempertanyakan tentang Al-qur’an bahkan Tuhan. Tapi kita perlu memahami apa yang membuat imam Al-Ghazali menentang hal tersebut. Pemikiran beliau adalah ketika manusia mempertanyuakan Al-Qur’an maka manusia secara tidak langsung menghilangkankeimanannya. Namun hal itu bertolak belakang dengan pemikiran Aristoteles. Aristoteles mengatakan memikirkan tentang suatu ketetapan akan membuat logika manusia mampu menyadarkan hati untuk mengetahui sebuah kebenaran dari ketetapan. Hal inipun di amini oleh Ibn Rush, bagi beliau Al-Qur’an adalah objek penelitian yang akan memperkuat keimanan. Mengapa demikian seperti ada perbedaan di antara pemikiran mereka. Mampukah kita memahami alur berfikir mereka? Atau kita tidak boleh mempertanyakan alur pikiran mereka? 
Berfikir merupakan kegiatan penuh tantangan namun berfikir merupakan sebuah tuntutan yang harus dilakukan. Supaya akal yang di ciptakan oleh Yang Maha Pencipta terguna dengan semestinya. Namun kegiatan ini tak di sukai oleh manusia. Mengapa demikian? Karena di zaman sekarang yang serba praktis dan simple manusia tidak menguras energy untuk berpikir. Manusia saat ini dijajah oleh tekhnologi yang serba canggih. Di mana manusia tak perlu melakukan penelitian dan hanya berpaku pada rumus baku hasil penelitian masa lalu. Tak dipungkiri memang hal tersebut terjadi, bahkan orang gila pun tak mau meneliti sesuatu yang sudah di teliti. Tapi pernahkah kita seakan-akan membangun daya pikir kritis kita terhadap sebuah penelitian.
 Contoh Newton melihat apel yang jatuh dari pohon lalu mengatakan itu adalah gaya Gravitasi (gaya tarik bumi). Teori Newton sampai sekarang masih di pakai bahkan di bangku sekolah. Tapi apakah teori itu benar, mari kita analisis bersama untuk membangun kesadaran berpikir manusia. Kita selalu mengamini teori Newton bahwa adanya gaya Gravitasi. Akan tetapi dalam keadaantidak sadar kita lupa bumi punya gaya tarik lalu kenapa tidak punya daya tolak? Tidak pernah ada serejarah sains yang mengatakan adanya gaya tolak bumi. Contoh lain jika memang gaya gravitasi itu ada adalah balon. Balon A di isi dengan udara dan Balon B di isi dengan Gas balon A tetap jatuh ke permukaan bumi meski di terbangkan, sementara balon B melayang-layang di udara. Pertanyaannya apakah ada benda yang tidak dapat di tarik oleh bumi, lalu mana lebih berat balon dengan apel. Apel yang berat mampu di tarik oleh bumi sementara balon yang berisi gas tidak dapat di tarik oleh bumi. Newton menjawab Anti-Gravity. Betulkah itu jawabannya? Karena dari kecil kita di ajarkan teori gravitasi kita akan mengamini hal tersebut tanpa ingin berfikir lebih panjang sebab itu sudah menjadi ketetapan. Namun logika sederhana Arcimedes menjawab tidak ada gaya gravitasi yang ada hanyalah berat jenis. Namun seluruh dunia akan menentang teori Arcimedes. Tapi mari kita teliti balon A dan Balon B di isi dengan benda yang berbeda A di isi dengan Udara dan B di Isi dengan gas. Berat jenis massa balon A sama dengan Berat jenis massa di luar balon A, akan tetapi berat massa di dalam balon B lebih kecil daripada massa di luar balon B.
Hanya sedikit berfikir kita bisa menjawab teori-teori di masa lalu. Namun apakah ini masih membuat kita ingin berfikir tentang Al-Qur’an dan Tuhan? Tentu kebanyakan menjawab teori di buat oleh manusia sedangkan al-Qur’an di buat oleh Tuhan dan itu tidak bisa di pertanyakan. Lalu jika kita membuka Al-Qur’an, Q.S Al-Baqarah 173, Al-Maidah ayat 3, An-Nahl ayat 15 ketiga ayat pada ketiga surah itu hanya mengatakan bahwa daging babi itu haram, dan secaea ilmiah di jawab Al-An’am ayat 145, serta hadist nabi yang mengatakan bahwa daging babi haram karena babi merupakan hewan yang kotor dan memakan kotorannya sendiri. Namun jika kita kaitkan kepada sebuah penelitian di Australia babi di rawat dari kecil dan tidak memakan kotorannya dan di awasi untuk tidak makan kotorannya, apakah babi tetap Haram? Mari berfikir apakah cukup dengan kita tidak berfikir mencari jawaban secara ilmiah dan logis kenapa babi di haramkan. Dulu filsafat pernah di kalahkan oleh para ahli agama tentang adanya Tuhan, dan masa itu di sebut dengan masa kegelapan. Namun apakah sekarang logika mampu mengalahkan ketetapan tuhan yang mengharamkan? Mari kita jawab secara ilmiah, mengapa babi di haramkan babi memiliki cacing pita dalam tubuhnya dan itu tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadist, tapi dijawab secara ilmiah cacing pita pada babi membahayakan hidup manusia bagaimanajika babi tidak punya cacing pita? Alasan ilmiah kedua adalah babi tidak mempunyai leher, karena pada hakikatnya halalnya suatu  binatang selain menyebut nama Allah harus di sembelih. 
Lalu apa sebenarnya tujuan dari berfikir menggunakan logika. Seperti yang kita ketahui bersama banyak sekali saudara-saudara kita di luar sana yang bahkan tidak memiliki tuhan dan mereka tidak pernah percaya terhadap tuhan atas dasar landasan logika. Untuk menjawab logika tidak cukup dengan keimanan. Sesuatu yang di pertanyakan otak tidak bisa di terima dengan puas jika di jawab dengan hati. 


Akan tetapi berfikir menggunakan logikapun harus sejalan dengan apa yang di katakan oleh Ibn Rush, berlogika untuk menguatkan keimanan agar kekhawatiran Imam al-Ghazali tidak terjadi. Maka dari itu mari kita berlogika untuk menemukan seluruh hakikat kebenaran. Apa yang dipertanyakan oleh akal, maka jawablah dengan akal. 

Komentar

Posting Komentar

70

Postingan populer dari blog ini

Kepercayaan Dan Agama

Salahkah musilimah bercadar