Kepercayaan Dan Agama

KEPERCAYAAN DAN AGAMA
Oleh : Bayu Prima SBW
Emile Durkhim mengatakan agama adalah sebuah kesatuan sistem keyakinan dan praktik-pratik yang berhubungan dengan yang sakral. Agama merupakan bentuk status manusia yang memiliki Tuhan, kitab suci dan seseorang yang di sebut nabi/pembaa kitab suci. Berbeda halnya dengan kepercayaan, kepercayaan adalah sebuah keyakinan terhadap sesuatu yang mistic atau roh-roh ghaib. Yang merupakan ajaran nenek ,moyang secara turun temurun. Kepercayaan ini tidak jelas menyatakan tuhan mereka siapa.
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa terbentuknya sebuah agama harus memenuhi beberapa unsur. Yang pertama adalah seorang Tuhan yang Maha Esa, yang kedua adanya nabi yang membawa kitab. Ketiga  Adanya tempat ibadah untuk sembahyang/ritual, yang keempat  adanya kitab suci. Ketika sebuah kepercayaan tidak memiliki unsur-unsur ini mereka tidak bisa di setarakan dengan agama.
Ada beberapa alasan mengapa agama tidak dapat disetarakan dengan kepercayaan hal ini :
Identitas ketuhanan mereka yang belum jelas yang mana nantinya jika merekadi setarakan dengan agama, akan jadi pertanyaan besar apakah kepercayaan mereka termasuk ke dalam ideology bangsa Indonesia yakni ketuhanan yang maha esa. Dan untuk kita ingat ketuhanan yang maha esa tidak seperti roh nenek moyang
Kepercayaan-kepercayaan yang sejatinya hampir sama praktek ibadahnya  dengan agama yang ada di Indonesia akan menimbulkan konflik karena mengaku penghayat kepercayaan tapi mengambil/menyamakan cara ibadah dengan agama lain. Contoh nyatanya adalah kaharingan yang ada di Kalimantan yang sama dengan hindu.
Dan seperti yang kita ketahui bersama bahwa ke-enam agama yang ada di Indonesia sudah memnuhi unsur-unsur tersebut. Sedangkan kepercayaan yang muncul dan menjadi problem adalah kepercayaan yang dianut oleh kelompok-kelompok minoritas dan kepercayaan ini tidak memiliki kejelasan baik itu dari segi ketuhanan dan tempat ibadah.
Inlah factor penyebab mengapa kepercayaan tidak bisa setara dengan agama. Ada beberapa hal yang memungkinkan mereka tidak bisa disetarakan dengan agama karena bisa menimbukan bebrapa dampak:
Jika penghayat kepercayaan aliran itu di akui maka mereka akan sulit terkontrol, dan akan timbul ajaran-ajaran baru yang menyimpang dari agama yang seharusnya.
Akan timbul berbagai konflik agama karena konflik yang terjadi pada tahun 2015 sebanyak 190 peristiwa dengan 249 tindakan. Hingga pada tahun 2016 naik ingga 7 persen.
 Timbul ajaran-ajaran ini dan sebagainya bisa dikategorikan sebagai ateisme. Karen menyembah roh nenek moyang. Yang bertentangan dengan sila pertama yakni Ketuhan Yang Maha Esa karena animism  ini percaya terhadap roh-roh gaib yang di takuti dan di percayaainya. Berbeda dengan politeism, henoteism, dan monotheism.
Kita menyadari akan hak orang-perorangan atau kelompok/ yang kita sebut sebagai warga Negara. Memang kepercayaan ataupun agama tidak bisa di paksakan sebab menyangkut kerohanian, akan tetapi dalam hal ini mereka tidak dilarang di Indonesia, akan tetapi mereka juga tidak dapat di setarakan dengan agama. Karena mereka harus memenuhi berbgai unsur di atas.
Namun pada dasarnya kitapun tidak bisa menolak untuk adanya sebuah kepercayaan. Sebab ada asas Equality Before the law. Semua manusia sama di depan hukum. Tapi asas inipun tidak bisa menjanjikan sebuah kepercayaan mampu di kategorikan atau di setarakan dengan agama. Akan tetapi untuk mencegah berbagai konflik SARA di tengah-tengah masyarakat karena memang kita adalah masyarakat pancasila, kita seharusnya mempermasalahkan agama atau kepercayaan. Mari kita saling merangkul dan membahu untuk menuju indopnesia sejahtera.

Komentar

Posting Komentar

70

Postingan populer dari blog ini

Salahkah musilimah bercadar

Haruskah Berlogika